Fakta Unik dan Menarik Seputar Gunung Kelud


puncak lava gunung kelud
Puncak Gunung Kelud
Teriaaak.blogspot.com – Gunung Kelud yang sampai saat ini masih menyisakan abu vulkanik karena arusaja meletus ternyata memiliki bergabai Fakta Unik yang patut untuk kita simak, diantaranya Letak, Letusan dan Kondisinya, nah untuk lebih lanjutnya berikut ini adalah beberapa fakta menarik tentang Gunung Kelud :





Letusan 1586 (Letusan Terdahsyat) - Dalam catatan sejarah, letusan terbesar sejak 1.000 tahun lampau berlangsung pada 1586. Pada waktu itu hampir semua karakter erupsi terjadi, seperti letusan hebat, luncuran awan panas hingga lelehan lahar panas dan lahar dingin. Berdasarkan buku Data Dasar Gunung Api di Indonesia, jumlah korban saat itu diperkirakan mencapai lebih dari 10 ribu orang --jumlah yang sangat besar mengingat populasi penduduk di sana saat itu masih sangat sedikit. Letusan pada 1586 itu diperkirakan memiliki kekuatan Volcanic Explosivity Index (VEI): 5. Ini setara letusan Gunung Pinnatubo di Filipina pada 1991. Sebagai perbandingan kekuatan letusan, Gunung Tambora yang meletus pada 1815 berkekuatan VEI=7 mengakibatkan 92 ribu orang meninggal dunia. Sementara, letusan Gunung Krakatau pada 1883 yang berkekuatan VEI=6 mencerabut nyawa 36.400 warga. Letusan Krakatau yang VEI=6 itu setara dengan 150-175 megaton dinamit atau setara dengan 7,500-8,750 bom atom Hiroshima -- 1 bom Hiroshima kira-kira termal energinya 20 kiloton. Gunung Kelud termasuk dalam tipe stratovulkan dengan karakteristik letusan eksplosif. Seperti banyak gunung api lainnya di Pulau Jawa, Gunung Kelud terbentuk akibat proses subduksi lempeng benua Indo-Australia terhadap lempeng Eurasia. Sejak 1300 Masehi, gunung ini tercatat aktif meletus dengan rentang jarak waktu yang relatif pendek (9-25 tahun), menjadikannya sebagai gunung api yang berbahaya bagi manusia. Kekhasan gunung api ini adalah adanya danau kawah (hingga akhir 2007) yang membuat lahar letusan sangat cair dan membahayakan penduduk sekitarnya. Akibat aktivitas vulkanik pada 2007 yang memunculkan kubah lava, danau kawah nyaris sirna dan tersisa semacam kubangan air. Puncak-puncak yang ada sekarang merupakan sisa dari letusan besar masa lalu yang meruntuhkan bagian puncak purba. Dinding di sisi barat daya runtuh terbuka sehingga kompleks kawah membuka ke arah itu. Puncak Kelud adalah yang tertinggi, berposisi agak di timur laut kawah. Puncak-puncak lainnya adalah Puncak Gajah Mungkur di sisi barat dan Puncak Sumbing di sisi selatan. Satu sistem untuk mengalihkan aliran lahar telah dibuat secara ekstensif pada 1926 -- masih berfungsi hingga kini -- setelah letusan pada 1919 memakan korban hingga ribuan jiwa akibat banjir lahar dingin menyapu permukiman penduduk. Pada abad ke-20, Gunung Kelud tercatat meletus pada tahun 1901, 1919, 1951, 1966, dan 1990. Pada 2007, gunung ini kembali meningkat aktivitasnya. Pola ini membuat beberapa ahli gunung api berpendapat bahwa siklus letusan Gunung Kelud adalah kira-kira 15 tahun sekali. 
Letusan 1919 - Letusan ini termasuk yang paling mematikan karena menelan korban 5.160 jiwa, merusak 15.000 hektare lahan produktif karena aliran lahar mencapai 38 kilometer. Kendati di Kali Badak, telah dibangun bendungan penahan lahar pada 1905. Selain itu, Hugo Cool pada 1907 juga ditugaskan melakukan penggalian saluran melalui pematang atau dinding kawah bagian barat. Usaha itu berhasil mengeluarkan air 4,3 juta meter kubik. Karena letusan inilah kemudian dibangun sistem saluran terowongan pembuangan air danau kawah, dan rampung pada 1926. Secara keseluruhan dibangun 7 terowongan. Pada masa setelah kemerdekaan dibangun terowongan baru setelah letusan 1966, 45 meter di bawah terowongan lama. Terowongan yang selesai pada 1967 itu diberi nama Terowongan Ampera. Saluran ini berfungsi mempertahankan volume danau kawah agar tetap 2,5 juta meter kubik.
Letusan 1990 - Letusan 1990 berlangsung selama 45 hari, yaitu 10 Februari 1990 hingga 13 Maret 1990. Pada letusan ini, Gunung Kelud memuntahkan 57,3 juta meter kubik material vulkanik. Lahar dingin menjalar sampai 24 kilometer dari danau kawah melalui 11 sungai yang berhulu di gunung itu. Letusan ini sempat menutup terowongan Ampera dengan material vulkanik. Proses normalisasi baru selesai 1994.
Letusan 2007 - Kegiatan vulkanik Gunung Kelud meningkat pada akhir September 2007. Dan terus berlanjut hingga November tahun yang sama, ditandai dengan meningkatnya suhu air danau kawah, peningkatan kegempaan tremor, serta perubahan warna danau kawah dari kehijauan menjadi putih keruh. Status Awas (tertinggi) dikeluarkan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi sejak 16 Oktober 2007 yang berimplikasi penduduk dalam radius 10 km dari gunung (lebih kurang 135 ribu jiwa) yang tinggal di lereng gunung tersebut harus mengungsi. Namun letusan tidak terjadi. Sempat agak mereda, aktivitas Kelud kembali meningkat sejak 30 Oktober 2007 dengan peningkatan pesat suhu air danau kawah dan kegempaan vulkanik dangkal. Pada 3 November 2007, tepat sekitar pukul 16.00 WIB, suhu air danau melebihi 74 derajat Celsius -- jauh di atas normal gejala letusan sebesar 40 derajat Celsius -- sehingga menyebabkan alat pengukur suhu rusak. Getaran gempa tremor dengan amplitudo besar (lebih dari 35 mm) mengakibatkan petugas pengawas harus mengungsi, namun kembali tidak terjadi letusan.
Letusan 2014 - Akhirnya diawal tahun 2014 tepatnya pada tanggal 13 Februari 2014 pukul 22.50 Gunung Kelud kembali meletus , analisa tentang letusan ini telah diperkirakan sebelumnya diakhir tahun 2013 dengan ada peningkatan aktifitas dari gunung ini, namun demikian ternyata tidak terjadi letusan pada tahun tersebut. Pada letusan tahun 2014 jarak antara penetapan status gunung yakni “bahaya tertinggi” (Awas Level IV) pada pukul 21.15 sehingga radius 10km dari gunung harus ditinggalkan manusia cukup singkat yakni kurang dari 2 jam setelah berikutnya pukul 22.50 gunung ini akhirnya meletus.

Labels: